CIMAHI GARDA INDONESIA.COM– Rencana perubahan nama RSUD Cibabat menjadi RSUD Wijaya Mulya akhirnya diungkap Wali Kota Cimahi Ngatiyana. Langkah ini diambil untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit milik Pemkot.
Hal itu disampaikan Ngatiyana dalam jumpa pers di Pemkot Cimahi, Senin 27 Juli 2026. Ia menyebut ide perubahan muncul setelah melihat langsung kondisi saat peletakan batu pertama UDDRS pengolah darah di RSUD Cibabat.
Menurut Ngatiyana, banyak keluhan muncul dari masyarakat. "Pelayanan RSUD Cibabat dirasakan masih kurang memuaskan. Ada rasa takut, trauma, dan belum maksimal," katanya.
Fakta di lapangan juga memperkuat. Banyak ASN Pemkot Cimahi memilih opname di rumah sakit luar. Bahkan 50% pasien RSUD Cibabat berasal dari luar Kota Cimahi, bukan warga setempat.
"Ini jadi bahan obrolan saya dengan Pak Wakil. Bagaimana caranya mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap RSUD," ujar Ngatiyana.
Dari diskusi itu muncul usulan mengganti nama. Tujuannya mengalihkan stigma negatif yang melekat pada nama "Cibabat". Apalagi Cibabat hanya nama kelurahan, sementara rumah sakit ini aset Kota Cimahi.
"Ia mencontohkan Polres Cibabat yang dulu berubah menjadi Polres Cimahi. Begitu juga Sumedang dan Baleendah yang pernah mengganti nama rumah sakitnya. "Kami pelajari dulu, apakah sesuai aturan dan tidak menyalahi prosedur," jelasnya.
Untuk memastikan prosesnya akuntabel, Pemkot Cimahi menunjuk Markplus Indonesia sebagai konsultan. Markplus sebelumnya juga dipercaya mengkaji rebranding RSUD Cimahi menjadi "Cimahi Campernik".
"Ngatiyana menegaskan kajian tidak bisa dikebut. "Paling cepat 1,5 tahun. Karena harus melibatkan masyarakat dan melewati tahapan panjang," katanya.
Proses sudah berjalan 4-5 bulan. Tahap awal in-depth interview, dengan Wali Kota dan Wakil Wali Kota. Lalu FGD pada 13 Mei bersama tokoh kelurahan, FKUB, dan akademisi Unjani. Dilanjut wawancara SKPD di Gedung 4 RSUD dan _Workshop Manajemen pada 25 Mei.
Hasil seluruh tahapan kemudian direview. Pemaparan dilakukan kepada kepala daerah, perangkat daerah, dan Dewan Pengawas RSUD. Dari tiga nama final, terpilih _RSUD Wijaya Mulya dengan tagline "Melayani dari Hati".
"Melayani dari hati artinya tidak ada perbedaan. Siapa pun pasiennya harus dilayani sama dan sebaik-baiknya," tegas Ngatiyana.
Soal anggaran, Ngatiyana meluruskan. "Katanya 1,5 miliar. Faktanya Rp97 juta sampai selesai. Kalau 5 bulan Rp60 juta," ujarnya. Dana itu untuk membayar konsultan Markplus.
"Ia minta media menyampaikan data yang benar agar tidak menimbulkan kegaduhan. Ngatiyana juga menekankan nama baru ini belum final," ujarnya.
Tahapan selanjutnya panjang. Hasil kajian dibawa ke DPRD untuk dibahas dan ditetapkan dalam Perda. Lalu butuh persetujuan Dinkes Provinsi Jabar. Finalnya di Kementerian Kesehatan karena nama rumah sakit harus unik secara nasional.
"Alhamdulillah Wijaya Mulya dicek di Kemenkes masih ada slotnya. Jadi masih bisa digunakan," kata Ngatiyana.
Jika disetujui, Pemkot akan menyusun naskah akademik, RAB, dan filosofi nama. Perubahan juga akan berdampak ke SOTK dan administrasi.
"Prosesnya 1,5 sampai 2 tahun. Sama seperti Sumedang. Jadi ini masih jauh, bisa juga batal tergantung keputusan DPRD," pungkasnya. (**)
