Gali Potensi MAPAY LEMBUR Camat Coblong Berkolaborasi Ajak KKJN,MANTEOS sambut Positip


BANDUNG,- Garda Indosenesia. com – Program Nganjang Ka Warga yang digagas  Kelompok Kerja Jurnalis Nasional (KKJN) mendapat sambutan positif dari Camat Coblong, Ratna Rahayu, S.STP. Ia berharap program tersebut dapat bersinergi dengan program kecamatan Mapay Lembur untuk menggali potensi sekaligus mengidentifikasi persoalan warga sejak dari tingkat RT dan RW.


Harapan itu disampaikan Ratna saat menghadiri rangkaian kegiatan Manteos Award 2026 di Lapangan Berlink, Kampung Manteos, RW 13, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Sabtu (3/10/2026).


Menurut Ratna, Nganjang Ka Warga memiliki semangat yang sejalan dengan Mapay Lembur, yakni turun langsung ke tengah masyarakat untuk mengetahui kondisi sebenarnya di setiap wilayah.


“Mudah-mudahan dengan program KKJN, yaitu Nganjang Ka Warga, kita mulai memetakan atau mengidentifikasi apa yang menjadi potensi wilayah dan apa yang menjadi permasalahan yang ada,” ujar Ratna.


Ia menilai persoalan di masyarakat sebaiknya dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin melalui kolaborasi antara pemerintah kecamatan, kelurahan, RT, RW, serta masyarakat.


“Jangan sampai permasalahan itu mencuat ke atas, padahal sebenarnya bisa kita tangani secara mandiri,” katanya.


Ratna menjelaskan, Kecamatan Coblong saat ini juga tengah menjalankan Mapay Lembur, sebuah program yang relatif baru. Dari enam kelurahan di Kecamatan Coblong, pelaksanaannya sejauh ini telah dilakukan di Kelurahan Sekeloa dan Kelurahan Lebakgede.


Ke depan, kegiatan tersebut akan dilanjutkan secara bertahap ke kelurahan lainnya.


Ratna bahkan membuka peluang agar pola Mapay Lembur dapat diadopsi di tingkat RW melalui sinergi dengan program Nganjang Ka Warga.


“Ini bisa diadopsi oleh RW 13. Nganjang Ka Warga atau Mapay Lembur bisa datang ke RT-RT untuk menanyakan apa yang menjadi potensi dan apa yang menjadi permasalahan,” ujarnya.


Dari Banjir, Longsor hingga Warga Rentan


Menurut Ratna, pemetaan wilayah menjadi semakin penting memasuki musim penghujan. Pemerintah perlu mengetahui sejak awal wilayah yang memiliki potensi banjir maupun longsor.


Namun, persoalan kewilayahan tidak hanya berkaitan dengan kondisi lingkungan. Pemerintah juga perlu memperhatikan warga yang menghadapi persoalan sosial dan ekonomi.


Ia menyebut antara lain warga rentan kemiskinan, kelompok desil 1 hingga 5, penyandang disabilitas, serta Pemerlu Layanan Kesejahteraan Sosial (PPKS).


“Jadi mudah-mudahan Pemerintah Kecamatan Coblong, Kelurahan Dago dan Pak RW 13 serta para RT siap bersinergi untuk mewujudkan Bandung Utama,” tutur Ratna.


Potensi Kampung Jangan Hanya Dilihat dari Masalah


Di sisi lain, Ratna mengingatkan bahwa pemetaan wilayah bukan hanya mencari persoalan. Setiap kampung memiliki potensi yang bisa dikembangkan dan menjadi kekuatan ekonomi maupun sosial masyarakat.


Di Kecamatan Coblong, kata dia, potensi UMKM tumbuh cukup pesat. Selain itu, terdapat pula potensi seni, budaya serta kepedulian sosial yang berkembang di tengah masyarakat.


“Potensinya banyak, dari sisi UMKM tumbuh menjamur dan semuanya enak-enak. Potensi lainnya adalah kepedulian terhadap isu sosial, seni dan budaya,” katanya.


Ratna mencontohkan karakter setiap kelurahan tidak selalu sama. Di Kelurahan Sekeloa terdapat kesenian Ulin Barong, sementara kawasan Lebak Siliwangi memiliki potensi seni visual berupa gang yang dihiasi grafiti dan mural hasil kreativitas warga.


Karena itu, menurutnya, pendekatan kewilayahan harus melihat karakter masing-masing kampung.


KKJN Didorong Perkuat Citizen Journalism


Ratna juga menyampaikan apresiasinya terhadap peran KKJN dalam mendorong pemberitaan positif mengenai berbagai potensi dan aktivitas masyarakat.


Ia berharap media yang tergabung dalam KKJN tidak hanya memberitakan persoalan, tetapi juga ikut memberikan ruang bagi warga untuk mengenalkan potensi wilayahnya.


“Untuk KKJN, saya berharap terus mendukung kami, terus memberikan berita-berita positif yang bisa dibagikan kepada warga dan memberikan dorongan supaya kita terus mengibarkan citizen journalism,” ujarnya.


Menurut Ratna, hubungan pemerintah dengan media dan masyarakat dapat berjalan harmonis apabila pemberitaan yang dihasilkan tetap memberikan manfaat serta pesan positif bagi publik.


Dengan demikian, Nganjang Ka Warga tidak sekadar menjadi kegiatan kunjungan jurnalistik, tetapi dapat berkembang menjadi ruang bersama untuk memetakan potensi, menemukan persoalan, menyuarakan kebutuhan warga dan mendorong solusi dari tingkat paling bawah.


Sinergi KKJN, pemerintah kecamatan, kelurahan, RT dan RW tersebut diharapkan menjadi salah satu cara membangun komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat—dari kampung, untuk kampung, dan bersama warga.          .              TIM : KKJN ( garda indonesia)

Komentar

BERITA TERKINI